Pura Puseh Ganggangan Canggi
Ancient Heritage

Pura Puseh Ganggangan Canggi

Kompleks warisan budaya yang berdampingan dengan Pura Arca dan Pura Lumbung, kaya akan tinggalan arkeologis dan sejarah Bali.

Pura Puseh Ganggangan Canggi\n\nPura Puseh Ganggangan Canggi berada di dalam satu kompleks wilayah dengan Pura Arca dan Pura Lumbung. Ketiganya secara keseluruhan disebut dengan Pura Puseh Desa Ganggangan Canggi. Pura Puseh Ganggangan Canggi secara administrasi termasuk dalam wilayah Dusun Canggi, Desa Batuan Kaler, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Dusun Canggi sendiri terletak di sebuah dataran dengan ciri khas jenis tanah liat berpasir yang mempunyai kelandaian lebih kurang 2%. Ketinggiannya sekitar 80 meter di atas permukaan air laut. Pura Puseh Canggi terletak tidak jauh dari Sungai Batuan (anak Sungai Petanu) di sebelah barat. Di sebelah timur dari situs ini, terdapat Sungai Petanu. \nPura Puseh Ganggangan Canggi berada di dalam satu kompleks wilayah dengan Pura Arca dan Pura Lumbung. Ketiganya secara keseluruhan disebut dengan Pura Puseh Desa Ganggangan Canggi. Masing-masing kompleks tersebut dipisahkan dengan tembok-tembok panyengker. Tinggalan arkeologis yang tersebar terdapat di dua tempat yaitu di Pura Puseh Ganggangan Canggi dan Pura Lumbung.\nBila ditelusuri berdasarkan data arkeologi berupa arca, di Pura Puseh Ganggangan Canggi tidak ditemukan satupun tinggalan bernuansa Buddhis. Tinggalan bernuansa Buddhis justru banyak ditemukan di situs Hyang Naga, yang tidak jauh dari Pura Canggi. Oleh sebab itu, sangat sulit membuktikan bahwa Canggini yang disebut dalam dua prasasti sebagaimana ditunjukkan di depan adalah Pura Puseh Ganggangan Canggi. Namun bila ditelusuri berdasarkan ilmu bahasa, kata Canggini merujuk pada tanaman padi. Selain disebut Canggini, tanaman padi juga disebut sebagai rajaphala atau raja dari buah. Sinonim nama-nama padi ini terdapat di dalam lontar Dasa Nama. Bila tafsir ini digunakan, memang daerah Pura Canggi terletak berdekatan dengan sawah pertanian padi. Namun hal ini masih perlu dibuktikan lebih lanjut. Hal ini sesuai dengan yang dinyatakan oleh Tim BPCB bahwa sulit untuk menghubungkan nama Pura Canggi dengan kata Canggini dalam prasasti tersebut di atas karena disamping tempatnya berjauhan, data penunjangnya belum ditemukan (Artanegara, 2017).\nBerkenaan dengan Pura Puseh Ganggangan Canggi, hanya sedikit informasi yang didapat. Sebuah catatan yang dibuat oleh Bernet Kempers dalam buku yang berjudul Bali Purbakala (hal. 36-38) memberikan informasi yang penting mengenai satu gapura yang terdapat di Canggi. Tidak diragukan lagi, gapura yang dimaksud adalah gapura yang terdapat di dalam Pura Puseh Ganggangan Canggi. Menurut Kempers, gapura tersebut ditemukan pertama kali oleh ahli purbakala pada tahun 1921. Ia sendiri mengunjungi tempat itu setelah tahun 1950-an, yakni ketika gapura tersebut telah ‘dibina’ antara tahun 1949-1951. Maksud kata ‘dibina’ sebagaimana dinyatakan oleh Kempers adalah dipugar. Kegiatan itu dilakukan oleh Dinas Purbakala.\nBerdasarkan namanya, memang diperkirakan Gapura Canggi berasal dari periode Bali Kuno. Perkiraan ini sesungguhnya telah diutarakan oleh Kempers, yang menyatakan bahwa memang nama Canggi(ni) dapat ditemukan dalam dua prasasti kuno yakni Prasasti Serai AII (915 Śaka atau 993 Masehi) dan Prasasti Sawan C (1020 Śaka atau 1098 Masehi). Namun bukan berarti bahwa gapura di areal ini berusia setua itu. Menurutnya gapura ini diduga berasal dari jaman Majapahit (sekitar abad ke-14 atau lebih muda). Tim BPCB sendiri memperkirakan periodisasi Pura Puseh Canggi sama dengan Pura Hyang Tiba yakni dari abad ke-13 sampai ke-14 Masehi. Perkiraan ini didasarkan atas perbandingan data-data arkeologis di kedua titik tersebut. Perkiraan periode abad ke-14 itu diperkuat dengan perbandingan gapura di Pura Puseh Canggi dengan gapura di sekitarnya yang berada dalam satu wilayah yang sama, yaitu gapura di Pura Hyang Tiba. Dari segi langgam, kedua gapura menunjukan bentuk yang sama. Beruntungnya, gapura di Pura Hyang Tiba memuat penanggalan absolut, yaitu adanya kronogram candrasangkala bergambar bulan, mata, busur panah, dan gajah di ambang pintu gapura yang nilainya 1258 Śaka.1\nSelain dengan gapura di Pura Hyang Tiba, bentuk gapura di Pura Puseh Ganggangan Canggi juga dapat dibandingkan dengan sebuah meru yang terdapat di Yeh Gangga. Pembandingan keduanya pernah dilakukan oleh Kempers. Adapun Pura Yeh Gangga yang dimaksudkan oleh Kempers adalah sebuah Pura yang terletak di Perean, Tabanan. Jika melihat simbar gantung pada gapura Pura Puseh Ganggangan Canggi yang menyerupai bentuk ekor burung, mengingatkan kita pada meru di Pura Yeh Gangga. Di meru Pura Yeh Gangga ini menurut Kempers berisi goresan angka tahun yang angkanya belum diketahui secara pasti pada waktu itu. Sedangkan berdasarkan hasil pembacaan yang telah dilakukan, goresan tersebut ternyata merupakan angka tahun yang menunjukkan tahun 1351 Śaka.\nMenurut Kempers, mahkota asli dari gapura di Pura Puseh Ganggangan Canggi ini telah hilang sama sekali. Namun ketika dilakukan pemugaran, diusahakan melengkapinya dengan mahkota yang baru. Mahkota baru ini didapatkan bentuknya dengan mengambil contoh dari bangunan-bangunan kuno yang lain. Keputusan untuk melengkapi puncak gapura tersebut dengan yang baru pada masa itu dilakukan karena gapura tersebut berada di areal Pura yang masih dimanfaatkan sebagai tempat suci. Meskipun menurut Kempers sendiri, usaha pelengkapan ini dapat mengurangi kebenaran kenyataan dari bentuk asli gapura tersebut. Meskipun demikian, masyarakat Canggi sendiri, yang juga turut membantu dalam pemugaran gapura tersebut, kemudian menambahkan sebuah gapura lagi dalam bentuk menurut paham masyarakat ketika itu.\nIa juga menerangkan, di tempat tersebut semestinya ada dua gapura lainnya, sehingga total gapura yang mestinya ada di areal ini adalah tiga gapura. Dua gapura telah rusak karena gempa bali atau gejer Bali tahun 1917, kemudian baru pada tahun 1949-1951 satu Gapura Canggi berhasil dipugar oleh dinas purbakala, hasilnya seperti yang kita lihat saat ini. Adapun bentuk Gapura Canggi saat ini adalah sebagai berikut.\nSelain Gapura sebagaimana terlihat di atas, di Pura Puseh Ganggangan Canggi juga terdapat berbagai tinggalan arkeologi lainnya. Di halaman dalam sangat banyak ditemukan arca-arca perwujudan, arca Gaṇeṣa, dan fragmen bangunan candi. Arca-arca tersebut jika diamati ciri-ciri ikonografisnya seperti badan kaku berdiri samabangga, mahkota berbentuk susunan kelopak bunga padma dan sikap tangan memegang kuncup bunga atau bulatan, menunjukan kesamaan dengan ciri-ciri arca yang tergolong periode seni arca Bali dari zaman Bali Madya abad XIV Masehi. Untuk lebih jelasnya, berikut ini adalah beberapa tinggalan arkeologi di Pura Ganggangan Canggi. Tidak semua tinggalan-tinggalan yang telah diidentifikasi akan dimuat dalam penelitian ini. Hanya beberapa tinggalan yang dianggap menonjol saja yang akan dideskripsikan dengan lebih mendetail.