Situs suci dengan gapura kuno dan penanda tahun Saka 1258 (1336 Masehi), salah satu jejak arkeologi penting di Batuan Kaler.
Pura Hyang Tiba\n889000222250\n\nPura Hyang Tiba memiliki struktur tiga halaman, yaitu halaman utama (utama mandala), halaman tengah (madya mandala) dan halaman luar (nista mandala). Sesungguhnya akses memasuki halaman utama pura terdiri dari dua arah yakni akses dari arah barat dan dari arah timur. Akses masuk bagi kepentingan sosial disediakan dari arah barat, sedangkan akses dari arah sisi timur merupakan akses yang khusus diperuntukkan bagi kepentingan prosesi ritual. Halaman utama berada di sisi bagian timur, di lokasi ini berdiri sebuah gapura kuno lengkap dengan cronogram pada ambang pintu gapura sebagai tahun penanggalan. Gapura ini juga dilengkapi dengan arca dwarapala berwujud binatang gajah di sisi timur dan lembu di sisi barat gapura. Dua arca dwarapala lembu masing-masing lapiknya dipahatkan angka tahun saka 1258. Angka tahun ini memberikan petunjuk absolut terkait periode pembangunan situs Pura Hyang Tiba sekitar abad XIV Masehi, yaitu tahun saka 1258 (1336 Masehi) berdasarkan cronogram ambang pintu dan pahatan aksara pada lapik arca dwarapala lembu.\nKata Tiba di dalam bahasa Jawa Kuno berarti jatuh (Zoetmulder, 1997: 1248). Jadi apakah Hyang Tiba berarti sebuah tempat suci yang jatuh? Bila tafsir ini dikaitkan dengan keadaan Hyang pada tahun 1941, yang rusak, mungkin saja yang dimaksud memang tempat suci yang telah jatuh atau yang telah rusak. Namun asumsi ini belum dapat dibenarkan, mengingat belum ditelusuri sejak kapan tempat ini disebut sebagai Hyang Tiba. Untuk mengkonfirmasi hal ini, ada baiknya kita periksa beberapa prasasti yang telah ditemukan di lokasi-lokasi terdekat. Prasasti yang dimaksud tentu saja adalah prasasti Batuan, Sukawati A, Sukawati B dan Pagan. Selain prasasti-prasasti tersebut, penelusuran juga dilakukan pada prasasti dari periode Bali Kuno yang lain.